JAMUR TIRAM

SELAMAT DATANG DI PUSAT JAMUR TIRAM SUMATERA BARAT ...!!!
Tampilkan postingan dengan label bibit jamur tiram putih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bibit jamur tiram putih. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Maret 2012

BUDIDAYA JAMUR TIRAM

TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA JAMUR TIRAM



Budidaya jamur tiram di pulau sumatera seperti Sumbar, padang, Riau, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang Medan dan sumut bukanlah hal baru lagi saat ini dan proses budidaya jamur tiram pun bukanlah hal yang sulit, hanya menggunakan beberapa teknik dan langkah-langkah kecil budidaya jamur tiram selesai dilakukan, banyak orang khusunya para pemula pem budidaya jamur tiram menilai cara dan teknik nya susah dan sulit, akan tetapi setelah di lakukan dan di praktekkan ternyata ini adalah hal yang santai dan sangat mengasikkan. Dalam proses budidaya jamur tiram hal yang paling di perhatikan adalah bahan-bahan dan kebersihan dalam budidaya, kebanyakan para pemula usaha budidaya jamur tiram mengalami kegagalan hanya karena kurangnya kebersihan yang menyebabkan timbulnya kontaminasi pada log jamur tiram. Dibawah ini akan di terangkan cara budidaya jamur tiram:

1.Persiapan Media Budidaya Jamur Tiram (subtrat)

Formula media tanam untuk jamur tiram (log produksi F3) adalah sebagai berikut:
·        Serbuk gergajian kayu                                
·        Dedak                                                           
·        Kapur (CaCO3)                                            
·        Tepung jagung                          
·        Gula merah                           
·        Gypsum (CaSO4)                     
·        NPK/ air kelapa          
·        Kadar air      

Untuk Lebih jelas silahkan klik www.budidaya-jamur-tiram-sumbar.com    


2. Pencampuran Media Budidaya Jamur Tiram

Bahan bahan media jamur tiram yang telah disiapkan diaduk sedemikian rupa sehomogen mungkin agar pertumbuhan miselium merata ke seluruh media. Pengadukan  bahan jamur tiram dapat dilakukan dengan cara mekanis ataupun manual. Apabila dilakukan dangan cara manual upayakan pengadukan lmedia jamur tiram ebih lama sehingga diperoleh pengadukan yang merata terutama untuk bahan bahan yang konsentrasinya rendah.  Setelah proses pencampuran selesai lakukan pengomposan (fermentasi) .Proses pengomposan media jamur tiram ini dapat membantu mangurangi kontaminasi oleh mikroba liar dan juga membantu penguraian beberapa senyawa kompleks menjadi lebih sederhana sehingga mudah diserap oleh jamur tiram. Lakukan pengadukan setiap hari agar proses pengomposan media jamur tiram merata.

Untuk melihat cara pencampuran media klik www.budidaya-jamur-tiram-sumbar.com
 

3.Pengantongan (loging) Media Dalam Budidaya Jamur Tiram

Pengantongan atau pembuatan baglog dalam budidaya jamur tiram dilakukan dangan memasukan media yang telah di kompos kedalam plastic tahan panas (polypropylene). Upayakan pengisian bahan jamur tiram tidak terlalu longgar dan tidak juga terlalu padat. Untuk memadatkan media jamur tiram dapat dilakukan dengan bantuan botol yang diisi dengan pasir. Setelah diisi media  jamur tiram pada bagian atas lalu di beri ring bamboo/pipa dan di tutup dengan kapas sebagai tempat memasukan bibit jamur tiram atau tempat keluarnya jamur setelah itu diikat dengan karet.

4. Sterilisasi bahan /log dalam budidaya jamur tiram

Baglog jamur tiram yang sudah siap selanjutnya di sterilisasi  melalui proses pasteurisasi dengan cara di kukus. Pasteurisasi yaitu proses pemanasan log jamur tiram dengan suhu tidak lebih dari 100 0C dengan waktu tidak kurang dari 5 jam. Pada umumnya prudusen  jamur tiram melakukan pemanasan selama8-12 jam. Pemanasan ini tergantung pada bahan dasar yang digunakan dan banyaknya log yang dipasteurisasikan. Setelah selesai baglog  jamur tiram didinginkan selama setengah sampai satu hari.



UNTUK INFO LENGKAP TENTANG CARA BUDIDAYA JAMUR TIRAM
KLIK LINK DI BAWAH
                                           

Rabu, 22 Februari 2012

JAMUR TIRAM

JAMUR TIRAM


Jamur tiram dalam bahasa ilmiah (Pleurotus ostreatus) yaitu  jamur untuk pangan (sangat baik untuk dikonsumsi) dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes dengan ciri-ciri jamur umum tubuh buah berwarna putih, coklat dan ada krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak berbentuk cekung.[1] Jamur tiram ini masih satu kerabat dengan Pleurotus eryngii dan sering dikenal dengan sebutan King Oyster Mushrooms ( raja jamur tiram ).

Bentuk Jamur Tiram

Pada tubuh buah jamur tiram ini memiliki tangkai yang tumbuh menyamping dalam bahasa Latin: pleurotus dan bentuknya agak seperti tiram (ostreatus) sehingga jamur tiram ini mempunyai nama binomial Pleurotus ostreatus.[2] Bagian tudung dari jamur tersebut berubah warna dari hitam, abu-abu, coklat, hingga putih, dengan permukaan yang  licin, diameter sekitar  5-20 cm yang pada tepi tudungnya  mulus sedikit  dan berlekuk.[1] Selain itu, pada jamur tiram ini memiliki spora yang berbentuk batang  dan berukuran 8-11×3-4μm serta miselia berwarna putih yang  tumbuh dengan sangat cepat.[1]

Habitat Jamur Tiram

Pada alam bebas, jamur tiram ini sering dijumpai hampir disepanjang tahun di hutan pegunungan daerah nan sejuk.[3]Dan tubuh buah terlihat saling bertumpuk pada permukaan batang pohon yang  lapuk atau pokok batang pohon yang telah ditebang karena jamur tiram ini adalah salah satu jenis jamur kayu.[3] Untuk itu, pada saat ingin membudidayakan jamur ini, substrat yang dibuat harus sesuai/memperhatikan habitat alaminya.[4] Media yang dipakai untuk membiakkan jamur tiram ini adalah serbuk gergajian kayu yang merupakan limbah dari penggergajian kayu.

Umumnya jamur tiram, Pleurotus ostreatus, mengalami dua tipe perkembang biakan dalam siklus hidupnya, yaitu secara aseksual maupun seksual. Seperti halnya reproduksi aseksual jamur, reproduksi aseksual basidiomycota umumnya terjadi melalui jalur spora yang terbentuk secara endogen pada kantung spora atau sporangiumnya, spora aseksualnya yang disebut konidiospora terbentuk dalam konidium. Sedangkan cara seksual, reproduksinya terjadi melalui penyatuan dua jenis hifa yang bertindak sebagai gamet jantan dan betina membentuk zigot yang kemudian tumbuh menjadi primodia dewasa.Spora seksual pada jamur tiram  putih, disebut basidiospora yang terletak pada kantung basidium.
Pada mulanya basidiospora bergerminasi membentuk sebuah masa miselium monokaryotik, yaitu miselium dengan inti haploid. Miselium terus bertumbuh hingga hifa pada miselium tersebut berfusi dengan hifa lain yang kompatibel sehingga terjadi plasmogami membentuk hifa dikaryotik. Setelah itu apabila kondisi lingkungan dengan memungkinkan (tingkat suhu antara 10-20 °C, dan kelembapan 85-90%, cahaya  yang mencukupi, dan CO2 < 1000 ppm) maka tubuh buah jamur tiram akan terbentuk. Terbentuknya tubuh buah jamur tiram ini diiringi dengan terjadinya kariogami dan meiosis pada basidium. Nukleus haploid hasil meiosis kemudian bermigrasi menjadi tetrad basidiospora pada basidium.[7] Basidium ini terletak pada bilah /sekat pada tudung jamur tiram dewasa dengan  jumlah yang banyak (lamela).[6] Dari spora yang terlepas ini  maka akan berkembang menjadi hifa monokarion.[6] Hifa ini akan memanjangkan filamennya dan membentuk cabang hasil pembentukan dari dua nukleus yang dibatasi oleh septum (satu septum satu nukleus).[Kemudian hifa monokarion mengumpul sehingga membentuk jaringan yang saling sambung menyambung berwarna putih dan disebut miselium awal dan akhirnya tumbuh menjadi miselium dewasa (kumpulan hifa dikarion).[6] Dalam tingkatan ini, hifa-hifa mengalami tahapan plasmogami, kariogami, dan meiosis hingga terbentuk bakal jamur tiram.[6] Nantinya, jamur tiram dewasa ini dapat langsung dipanen /dipersiapkan kembali menjadi bibit induk (kultur murni jamur tiram)